Gubernur Akan Tertibkan Akbid/Akper Tak Standar

Posted: 29/12/2010 in Uncategorized
Tags: , , , ,

InformasiPagi, Sumsel

Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin segera melakukan penertiban terhadap akademi kebidanan (Akbid) dan akademi keperawatan (Akper) di Provinsi Sumsel. Gubernur juga akan merevitalisasi Akbid/Akper bahkan berencana me-merger akper/akbid di Sumsel.
Demikian diungkapkan Gubernur usai melakukan rapat pengarahan Gubernur Sumsel, atas hasil kunjungan ke Negara Jepang, di Ruang Rapat Bina Praja Sumsel, Rabu (22/12). Acara dihadiri DPRD Provinsi Sumsel, Pemprov Sumsel, Dinas Pendidikan Sumsel, Dinas Kesehatan Sumsel, SKPD terkait lainnya, dan perwakilan akbid juga akper.
Menurut Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, keberangkatannya ke Jepang selama dua hari kemarin, untuk melihat potensi kerjasama pengiriman tenaga kerja perawat ke Jepang, dan menyiapkan kualitas tenaga perawat asal Sumsel untuk dikirim ke Jepang dan Negara lainnya.
“Setelah pulang dari Jepang ke Sumsel saya segera tindaklanjuti, dan akan menertibkan Akper dan Akbid khususnya yang bertempat di ruko, karena menurut saya itu tidak masuk akal. Saya sudah minta Diknas dan Dinkes membentuk tim evaluasi untuk meninjau seluruh akper dan akbid di Sumsel yang tidak memenuhi kriteria, kalau ada agar segera memenuhinya dengan tenggang waktu yang ditentukan, jika tidak mampu maka harus ditutup,” tegas Gubernur.
Pasalnya kata Gubernur, tenaga perawat asal Sumsel harus berkualitas dan akademinya harus memenuhi standar, ia kecewa hanya satu orang saja tenaga perawat asal Sumsel berhasil lulus seleksi bekerja di Jepang. “Di Cengkareng saya ketemu salah satu calon tenaga kerja perawat yang akan ke Jepang bernama Mera asal Belitang OKUT lulusan akper di Sumsel. Hanya satu yang lulus seleksi kerja di Jepang yang dilaksanakan oleh Japan Indonesia Assosiation for Economic Coorporation. Karena seleksinya ketat, harus berpengalaman dua tahun dan menguasasi Bahasa Jepang, ia sebelum menjadi perawat di Jepang harus lulus ujian praktek dinas di Kemenkes Jepang dalam tiga tahun,” katanya.
Gubernur mengatakan, berbeda dengan di Sumsel yang sebelum lulus mahasiswa/mahasiswi Akbid dan Akper sudah diperbolehkan memegang pasien, sementara di Jepang selama belum lulus pendidikan mereka tidak boleh menyentuh pasien dan hanya menjadi asisten juru rawat.
“Dalam waktu tiga tahun mereka diberi kesempatan ujian nasional tiga kali, kalau lulus bisa bekerja jadi perawat di Jepang bergaji besar, kalau tidak lulus harus kembali, dan totalnya setelah lima tahun belajar dan magang mereka baru diperbolehkan menyentuh pasien, karena pasien ini urusannya nyawa,” kata Gubernur.
Untuk meningkatkan kualitas calon tenaga perawat di Sumsel, di Palembang akan dibangun Akper baru dan merevitalisasi Politeknik UNSRI, Gubernur juga akan mengisi kurikulum Akper tersebut disesuaikan dengan permintaan Jepang, dan akan disupervisi langsung dari Jepang. Para anak didik di Akper baru nanti akan diajarkan Bahasa Jepang, Arab dan Inggris, sehingga dapat mengisi tenaga kerja di Arab, Ausralia dan Jepang. “Inilah tujuan keberangkatan saya, Insya Allah seminggu lagi kita rapatkan hasilnya dan tahun depan dapat kita mulai,” katanya.
Menurut Gubernur, daripada Akper dan Akbid terpencar di kabupaten/kota di Sumsel, maka tidak menutup kemungkinan juga Akper atau Akbid akan dimerger menjadi satu, namun akan dilengkapi fasilitas yang lengkap. “Selain memerlukan perawat yang berpengalaman, Jepang juga membuka peluang kerja perawat yang tidak memerlukan pengalaman kerja dua tahun tapi fresh graduate bisa langsung kerja, Jepang memerlukan tenaga perawat care walker yaitu perawat yang bekerja di rumah panti jompo,” jelasnya.
Negara Jepang membutuhkan banyak tenaga perawat di Indonesia khususnya Sumsel, karena generasi muda di Jepang, tidak banyak berminat menjadi perawat ataupun care walker. “Inilah peluang yang akan kita ambil, kalau setelah mereka bekerja berapa tahun di Jepang setelah kembali lagi ke Indonesia mereka akan menjadi disiplin profesional dan bekerja bagus di Indonesia,” kata Alex.
Tidak hanya tenaga perawat, Gubernur juga mengunjungi salah satu pabrik milik Panasonic Grup yang menghasilkan rumah Eco Friendly dan ramah lingkungan. Di Pabrik tersebut ada 18 anak tamatan SMK yang kebanyakan dari Jawa yang magang kerja selama tiga tahun. “Saya terkesan anak-anak itu disiplin, ahli, sopan padahal baru tiga bulan, tidak kalah dengan orang Jepang asli di sana, karena baru tiga bulan sudah mendapatkan topi merah yang artinya sudah profesional boleh memegang sektor apapun di pabrik tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu masih di Kantor Gubernur, Kepala Diknas Pendidikan Provinsi Sumsel, Ade Karyana menambahkan, bekerjasama dengan Dinkes Sumsel, pihaknya akan mendata jumlah Akbid dan Akper yang ada di Sumsel, untuk mengetahui apakah sudah memenuhi standar dan juga masalah perizinan yang dimilikinya. “Kami akan segera data, dan minggu depan kami akan laporkan hasilnya ke Pak Gubernur,” katanya singkat.agustian pratama

Advertisements
Comments
  1. nengnong says:

    bisa minta alamat2 akper di sumsel nggak ??
    terimakasih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s