BLH Pantau Kualitas Udara Tujuh Daerah

Posted: 25/11/2010 in Uncategorized
Tags: , , , ,

– Tak Semua Daerah Miliki Alat Ukur Kualitas Udara

InformasiPagi, Sumsel

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sumsel, melakukan pemantauan kualitas udara di tujuh daerah di Sumsel, namun Kota Palembang tetap menjadi prioritas pengukuran kualitas udara. Hingga kini baru beberapa daerah saja yang memiliki alat pengukur kualitas udara.
Demikian terungkap dalam acara pelatihan pemantauan kualitas Udara Ambien Kabupaten/kota se Sumsel tahun 2010, di Hotel Budi Palembang yang digelar 24-25 november 2010. Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumsel, Ahmad Najib melalui Kasubid Pengendalian Pencemaran BLH Sumsel, Muhammad Andi, mengatakan, kualitas udara ambien adalah kualitas udara lingkungan sekitar, udara ambien ini sering dicemari udara yang dihasilkan suatu kegiatan yang dinamakan udara emisi dari knalpot dan pabrik.
“Secara umum udara di Palembang masih cukup memenuhi standar baku mutu, tapi kualitas dan partikel udaranya sering melampaui baku mutu pada spot tertentu di jam sibuk seperti di perempatan simpang Charitas, Simpang Jakabaring-Plaju, Bundaran Air Mancur, Simpang Polda, Simpang Patal dan titik spot padat serta macet lainnya,” jelasnya Rabu (24/11).
Namun, untuk pencemaran udara ini belum diterapkan sanksi termasuk kepada perusahaan, meski akibat pelepasan emisi ke udara oleh kendaraan bermotor dan industri membuat perubahan iklim. “Terkait pencemaran udara ini memang belum ada yang disanksi, kalau untuk pencemaran lain itu pernah diberikan peringatan melalui evaluasi kinerja propher,” jelasnya.
Menurutnya, upaya menetralisir kualitas udara dan mengurangi emisi khususnya di Palembang, pihaknya bekerjasama dengan green community, juga Pemprov Sumsel dan kabupaten/kota melakukan penanaman berbagai pohon khususnya pohon trembesi yang daya serapnya tinggi.
“Tidak hanya di Palembang, kita juga melakukan pemantauan kualitas udara di tujuh daerah di Sumsel antara lain, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Lubuk Linggau dan lainnya. Tapi, kita tetap memrioritaskan pemantauan kualitas udara di Palembang, karena Palembang merupakan ibukota Provinsi, pusat aktifitas pembangunan dan memiliki banyak kendaraan bermotor,” katanya.
Ia juga menjelaskan, tidak hanya partikel udara yang melampaui baku mutu, tingkat kebisingan di Palembang juga sering melampaui baku mutu yang semula hanya sekitar 70 desimel pada jam sibuk melebihi 70 desimel.
Sementara itu, Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan, Kemas Ahmad Sukri menambahkan, hingga kini baru beberapa daerah yang memiliki alat pengukur kualitas udara, antara lain BLH Provinsi Sumsel, Kota Palembang, Banyuasin dan beberapa daerah lainnya. “Alat ukur udara ini penting dimiliki daerah, untuk memonitor kualitas udara sehingga diketahui tingkat kualitas udara di daerah tersebut,” katanya.
Menurut dia, faktor minimnya jumlah alat ukur di daerah ini dikarenakan harga alat ukur yang tidak murah, yang sekitar puluhan juta hingga ratusan juta, selain itu, untuk mengukur kualitas udara ini juga tidak mudah, selain memiliki alat, harus ada laboratorium dan SDM yang memiliki pengetahuan untuk itu. “Cara mengukurnya, pertama diambil sampel udara dengan meletakkan alat ditempat yang akan diukur udaranya selama satu jam, lalu dilakukan uji laboratorium,” pungkasnya.
agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s