Kerukunan Umat Beragama Harus Dijaga

Posted: 12/11/2010 in Uncategorized
Tags: , , , , ,

InformasiPagi, Sumsel
Agar suasana di Provinsi Sumsel terus kondusif terlebih Provinsi Sumsel yang akan menjadi tuan rumah kegiatan SEA Games XXVI pada tahun 2011 mendatang, masyarakat Sumsel khususnya para pemuka agama di Sumsel diminta untuk bersatu menjaga dan mewujudkan kerukunan umat beragama.
Wakil Gubernur Sumsel, H Eddy Yusuf mengatakan, masalah kerukunan umat beragama harus dijaga di Sumsel, karena jika terjadi pergesekan antar umat beragama tidak akan bisa terbayangkan situasi di Sumsel. Nilai-nilai kerukunan beragama harus dibangkitkan sejak dini dan ditingkat sekolah.
“Kerukunan itu wajib bagi kita dan itu harga mati, untuk itulah harus sering dilakukan koordinasi antara pemuka agama termasuk dengan aparat keamanan, sehingga pergesekan baik dari dalam dan dari luar tidak terjadi,” katanya disela Seminar Kerukunan Umat Beragama Sumsel, dan sosialisasi Peraturan Bersama Menteri (PBM) no 8 dan 9 tahun 2006 di Hotel Jayakarta Daira, Kamis (11/11).
Wagub berpendapat, inti dari kerukunan umat beragama itu adalah saling menghormati, saling menyayangi dan saling menghargai satu sama lain. Dalam mengurusi kerukunan umat beragama, FKUB diminta Wagub untuk tidak pernah jenuh, namun tetap membangun pola pikir, membangun mental spiritual sehingga menciptakan suasana kondusif di Sumsel.
“Para pemuka agama juga jangan cukup berbicara di atas mimbar tapi berbuat nyata di lapangan, saya mengapresiasi tinggi adanya FKUB, karena jika para pemuka agama sudah bersatu mungkin tidak akan terjadi lagi perkelahian dan pergesekan antar agama,” kata Wagub.
Dengan diadakannya seminar kemarin, Wagub juga berharap, seminar dapat mencari titik temu dan memformulasikan hal-hal penting demi mewujudkan kerukunan umat beragama di Sumsel. “Peraturan bersama menteri no 8 dan 9 tahun 2006 ini bukan hal yang baru lagi, tapi ini memang harus tetap disosialisasikan untuk mengingatkan kembali masyarakat, pemuka agama, aparat dan pemerintah itu sendiri,” ujarnya.
Karena menurut Wagub, tidak akan ada gunanya pembangunan daerah yang besar dan bagus, jika terjadi pergesekan antar umat beragama seperti kasus di Ambon beberapa tahun lalu. “Alhamdulillah kita di Sumsel aman saja, para pemuka agama jangan segan-segan berkomunikasi dengan pemerintah termasuk Kementrian Agama, Pemprov Sumsel juga akan membantu kegiatan FKUB, pihak swasta juga silahkan jika ingin membantu,” ajak dia.
Sementara itu, Ketua FKUB Sumsel, Drs HS salim, mengatakan, kerukunan umat beragama merupakan hubungan sesama umat beragama yang berlandaskan saling pengertian, toleransi, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agama serta kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menurutnya, hingga kini masih banyak pejabat belum paham tentang peraturan bersama menteri dalam negeri, menteri agama No 8 dan 9 tahun 2006 tentang kerukunan antar umat beragama, yang akibatnya sering terjadi perbedaan pemahaman di tingkat bawah, salah satunya mengenai pendirian rumah ibadah.
Sehingga pihaknya khawatir akan muncul ketidakfahaman yang menimbulkan gesekan antar umat beragama di lapangan, seperti kasus di Bekasi yang terjadi perbedaan pendapat tentang pembangunan rumah ibadah, hingga mengakibatkan penyerangan dan jatuh korban jiwa.
Ia menjelaskan, dalam PBM No 8 dan 9 tahun 2006, jelas diatur prosedur pembangunan rumah ibadah, mulai dari izin dari masyarakat setempat, izin kementerian agama kabupaten/kota, yang kemudian atas rekomendasi FKUB setempat.
“Memang kita mendapati banyak pejabat dan pemerintah yang belum memahami PBM ini, yang akhirnya menimbulkan ketidaktahuan dan kebiungunan di lingkungan masyarakat, kalau pemerintah tegas sejak awal, mengerti serta menjelaskan PBM ini, pergesekan tidak akan terjadi,” ujarnya.
Acara seminar dan sosialisasi kemarin, menghadirkan Wakil Gubernur Sumsel, H Eddy Yusuf, Kapolda Sumsel, Irjend Pol Hasyim Irianto, para tokoh ulama Sumsel, dan peserta dari seluruh FKUB se Sumsel.agustian pratama

Comments
  1. Perbedaan itu mutlak keknya.
    Dgn perbedaan ada aliran.
    Air, angin, massa, agama.

    Yg menjadi masalah adalah upaya menyamakannya
    Padalah kesammaaan hanya menghasilkan genangan.

    “… seminar dapat mencari titik temu dan memformulasikan hal-hal penting demi mewujudkan kerukunan umat beragama di Sumsel.”

    Mencari titik temu adalah baik dan sulit.
    Memmberi titik pandah mungkin mudah.

    Aku tak bisa membayangkan bila wajah kita sama semua.
    Selintas bagai kawanan Zebra di padang Masaimara.
    Wajahnya beda-beda tipis terabaikan.

    Aku tak bisa bayangkan bila pikiran kita sama semua.
    Selinta bagai jejeran Komputer masal di Mangga Dua.
    Fungsinya beda-beda tipis terabaikan.

    Aku tak bisa bayangkan bila hati kita sama semua.
    bagai Malaikat Tuhan yang hilir mudik.
    Kerjanya beda-beda tipis terabaikan.

    Bila semua kita menjadi Kristen atau Jahudi,
    Bila semua kita menjadi Syiah atau Suni,
    Aku pun tak bisa bayangkan apa jadinya manusia.

    Terima kasih Tuhan!
    Engkau telah menganugerahkan cinta kepada manusia,
    Sehingga kami bisa memandang semua beda boleh ada,
    Tak lah ada gunanya cinta-Mu jika semuanya harus sama.

    Perbedaan menyebabkan aliran.
    Aliran membuat segalanya hidup.
    Hidup itu mengalir bukan menggenang.

    Salam Damai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s