Hanya Tiga Persen Lulusan Perguruan Tinggi Bekerja

Posted: 23/09/2010 in Uncategorized
Tags: , , , ,

– Setiap Tahun, 200 Lowongan Kerja Direbut 11 Ribu Pencaker

InformasiPagi, Sumsel

Dalam setiap tahunnya, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Sumsel, membuka job fair bagi para pencari kerja (pencaker), namun setiap tahunnya job fair hanya mampu menerima rata-rata 200 pencari kerja, sementara pencaker pada job fair setiap tahunnya mencapai 11 ribu orang. Disebutkan juga, hanya tiga persen saja lulusan perguruan tinggi di Palembang yang bekerja setelah tamat.

Demikian diungkapkan oleh Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Provinsi Sumsel, H Zulkopli diwawancara di Kantornya, kemarin, Rabu (22/). Menurutnya, setiap tahun Disnakertrans bekerjasama berbagai instansi perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja menggelar job fair.

“Biasanya setiap tahun memang ada job fair, tapi lowongannya banyak membutuhkan karyawan yang dikontrak dan juga sistem kejar target seperti bidang pemasaran atau debt collector pada perusahaan elektronik, rokok dan lainnya. Hanya sedikit lowongan yang membutuhkan tenaga teknis, karena lowongan tenaga teknis biasanya dibutuhkan setiap tiga tahun sekali,” katanya.

Ia menjelaskan, dari 11 ribu pencaker yang mendaftar pada job fair setiap tahunnya, rata-rata hanya 200 pencaker yang memenuhi persyaratan, dari 200 pencaker yang lulus persyaratan tersebut hanya sekitar 80 orang saja yang diterima untuk bekerja, sisanya tidak lulus.
Sementara itu, Staf Penta Kerja, M Kamsori Madehan juga menjelaskan, untuk mengimbangi pencaker yang tidak lulus tersebut, pihaknya juga setiap tahun menerima tenaga kerja sukarela (TKS) sebanyak dua orang untuk ditempatkan di kabupaten/kota di Sumsel. TKS tersebut hanya dipekerjakan selama enam bulan dengan honor setiap bulan, dan para pelamar TKS tersebut mayoritas bukan dari fresh garduate atau baru lulus, melainkan telah lulus 2-3 tahun sebelumnya.

Selain itu ia mengatakan, lulusan dari berbagai perguruan tinggi di Palembang hanya sekitar 2-3 persen saja yang mampu bekerja di perusahaan-perusahaan, sisanya ada yang menganggur dan hanya sedikit memilih menjadi wirausahawan atau atau membuka usaha. “Paling tinggi tiga persen saja sarjana yang lulus perguruan tinggi yang mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pendidikan Sumsel Prof Dr Muhammad Sirozi, MA, mengatakan, paradigma yang terjadi selama ini, dari 6.000 lulusan perguruan tinggi 70 persen diantaranya akan menjadi pengangguran, dan hanya sekitar enam persen lulusan perguruan tinggi berprofesi sebagai wirausahawan dan lainnya sisanya berprofesi buruh. Bahkan jika dibuat perbandingan lagi, tujuh dari 10 profesi pengojek adalah para lulusan perguruan tinggi atau sarjana, bahkan ada juga sarjana nuklir yang menjual es krim. Untuk itu, perlu ada pembenahan yang harus dilakukan, seperti meningkatkan kompetensi daya saing, tranformasi pendidikan dan juga singkronisasi antara jurusan dengan lapangan kerja.

“Ini membuktikan bahwa harus dilakukan pembenahan, ke depan perguruan tinggi bukan hanya harus melahirkan sarjana saja, tapi dapat membentuk sarjana mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri atau bisa mencarikan jalan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan bagi sarjananya,” pinta Sirozi.agustian pratama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s