Sumsel Berpotensi Dagang Karbon

Posted: 22/09/2010 in Uncategorized
Tags: , , , , ,

– Satu Tahun Sumsel Bisa Dapatkan Rp400 M dari Karbon

InformasiPagi, Sumsel

Telah terjadi peningkatan suhu bumi karena menumpuknya gas rumah kaca di atmosfer, yang membuat perubahan iklim dan mengakibatkan pemanasan global. Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) diajak mengurangi pemanasan global dan memitigasi perubahan iklim salah satunya melalui teknologi CDM (Clean Development Mechanism). Tak kurang 70 Project Owner bidang Minyak, Gas dan Kelapa Sawit diajak dalam proyek penurunan emisi ini.
Demikian terungkap dalam acara pengenalan teknologi clean development mechanism, di Hotel Novotel Palembang kemarin, Selasa (21/9). Staf Khusus Gubernur Bidang CDM, Najib Asmani menjelaskan, CDM merupakan teknologi pemanfaatan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global, dari sesuatu yang tidak berguna menjadi yang berguna, dengan CDM juga akan didapatkan insentif kredit karbon dalam bentuk CERs (Certified Emission Reductions) oleh PBB. “Kegiatan CDM itu meliputi penggantian energi batubara dengan gas alam, pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi energi listrik, pemakaian bahan bakar gas pada angkot, bus kota dan mobil pribadi dengan dibangunnya stasiun BBG. Lalu kegiatan pemanfaatan limbah kayu untuk menghasilkan energi listrik, penangkapan gas methan dan pengolahan sampah dan waste water,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin menyampaikan, Sumsel kaya dengan sumberdaya alam pertambangan, energi dan perkebunan, dalam pengelolaan sumberdaya alam tersebut, jika tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan emisi gas rumah kaca. Pada kegiatan eksplorasi gas dan oil di Sumsel pada 2009 lalu katanya, telah dihasilkan gas buangan (flare gas) yang mengemisi atmosfir sebanyak 60 MMscfd, setara dengan 1.200.000 ton karbon dioksida atau CERs (1 MMscfd menghasilkan CErs).
“Dari sektor perkebunan kelapa sawit saja, jumlah tandan buah segar (TBS) yang bisa diolah sebanyak 2.500 ton TBS per jam, yang bisa menghasilkan 1.950.000 CERs (setiap 60 ton TBS per jam menghasilkan 47.000 CERs). Dari sektor itu, dapat diperoleh sebanyak 3,15 juta CERs per tahun, dan jika 1 CERs dihargai 12 Euro maka akan diperoleh insentif karbon dengan total sebesar 37,8 juta Euro atau Sumsel akan menerima sekitar 400 Miiar rupiah per tahun dalam kurun waktu 10 tahun dari sector kelapa sawit,” jelasnya.
Gubernur menyimpulkan, teknologi CDM memberikan manfaat secara global, dengan hanya menjaga kawasan hutan dan perkebunan dapat menghasilkan karbon sebanyak mungkin dan Sumsel mendapatkan keuntungan. Terlebih pihak Gazprom akan membeli gas karbon dari Sumsel untuk dijual ke Negara Eropa. “Kita harus sama-sama bersatu, tolong difikirkan masalah lingkungan ini, karena selain mengurangi emisi gas kaca, kita nanti akan mendapatkan keuntungan dari proyek ini,” pinta Gubernur.
Sejauh ini kata Gubernur, sudah ada pilot project untuk pencegahan emisi gambut yaitu Merang REDD seluas 24.000 hektar dan dapat mencegah emisi sebesar 100.000 ton CO2 di Muba, kemudian mencegah emisi dari kebakaran gambut dengan HTI karena mampu mengurangi emisi sebesar 90 juta ton emisi CO2. Lalu, ada proyek konservasi hutan seluas 52.000 hektar dengan dana 7,5 EURO dari pemerintah Jerman, penanaman 300.000 hektar HTI akasia dari target 1.000 hektar dan hutan rakyat dan hutan desa seluas 30.000 hektar.
Sedangkan, Project Manager Gazprom Rendy Soenarso mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Gubernur Sumsel dan mengundang sekitar 70 projek owner bidang minyak, gas dan kelapa sawit di Sumsel untuk sama-sama memperbaiki lingkungan dengan menurunkan emisi di Sumsel.
Menurutnya, dengan menurunkan emisi, Sumsel akan mendapatkan carbon credit dari PBB, prosesnya sendiri melalui pendaftaran proyek ke PBB yang memakan waktu 1,5 tahun karena PBB langsung yang menentukan. “Gazprom yang mengembangkan proyek ini, kami yang bisa membeli karbon kredit dari Sumsel untuk dijual ke Eropa, hari ini kita membahas apa yang dimaksud dengan carbon credit, proses-prosesnya, dan cara mendapatkan carbon credit dari PBB itu,” jelasnya.
Ia mengatakan, potensi pengembangan carbon trade di Sumsel sangat besar, seiring dengan potensi minyak, gas dan kelapa sawit yang juga cukup besar. “Potensi flare gas di Sumsel masih mencapai 50-60 mm scfd, sementara produksi kelapa sawitnya mencapai sekitar yang 2.500 ton per jam,” katanya.
Sedangkan, General Manager Gazprom, Shopie menyampaikan, pihaknya sudah melakukan pembahasan dan diskusi tentang CDM di Sumsel dengan para project owner, ke depan pihaknya berharap ada tindak lanjut dari pertemuan kemarin sehingga Sumsel mendapatkan kontribusi carbon credit dari PBB. agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s