Dinkes Sumsel Catat 2.345 Kasus Malaria Positif

Posted: 13/07/2010 in Uncategorized
Tags: ,

InformasiPagi, Sumsel

Hingga Mei 2010, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumsel menemukan 34.052 kasus klinis (gejala) Malaria di Sumsel, dari 34.052 tersebut setelah diperiksa di laboratorium, Dinkes mendapati 2.345 kasus positif malaria.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Zulkarnain Noerdin, melalui Kepala Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Sumsel, Dr H Matdani Nurcik M.Epid mengungkapkan, selama 2009 pihaknya mencatat terdapat 53.739 kasus klinis malaria di Sumsel, lalu diteliti 35.893 kasus dan akhirnya didapatkan 6.599 kasus malaria positif. Sementara hingga Mei 2010, dari ditemukannya 34.052 kasus klinis Malaria di Sumsel, lalu diperiksa 16.479 kasus, akhirnya didapatkan 2.345 kasus positif malaria hingga Mei 2010.
“Kasus klinis itu artinya memiliki gejala yang sama seperti malaria, seperti demam, menggigil, seperti DBD dan campak, untuk mengetahui positif tidaknya harus melalui pemeriksaan mikroskop di laboratorium,” jelas Matdani di ruang kerjanya kemarin, Selasa (13/7).
Pemeriksaan tersebut melalui sampel darah, untuk mengetahui apakah ditemukan Plasmodium atau protozoa parasit yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia, jika ditemukan maka pasien tersebut positif terserang malaria.
Ia juga menjelaskan, sebaran terbanyak kasus malaria di Sumsel terdapat di tiga daerah yaitu Kabupaten Muara Enim, Musi Banyuasin, OKU dan menyusul lainnya, tiga daerah tersebut ditetapkan sebagai daerah rawan malaria. “Malaria ini dari nyamuk anopheles yang cepat berkembang di daerah tropis, khususnya kondisi daerah yang rawa-rawa. Di Sumsel dapat diperbandingkan setiap 1.000 penduduk Sumsel 7-8 orang terserang malaria,” terang dia.
Untuk penanggulangan malaria ini, selain ada alokasi dana dari kabupaten/kota pihaknya juga mendapatkan bantuan dana dari Global Foundation khususnya untuk penanganan malaria di tiga daerah Muara Enim, Muba dan OKU masing-masing Rp400 juta/tahun.
Meski ditemukan 2.345 kasus malaria di Sumsel, pihaknya hingga kini belum mendapatkan informasi ada korban meninggal akibat penyakit malaria tersebut. Namun Dinkes tetap melakukan upaya pencegahan dan antisipasi menyebarnya penyakit malaria sejak dini, dengan melakukan sosialisasi 3M (menutup, menguras, menimbun), dan juga memelihara ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan tempalo atau ikan kepala timah. “Kalau fogging itu cara terakhir, fogging juga tidak terlalu efektif karena tidak membunuh jentik-jentik nyamuk, beda dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk. Fogging juga memerlukan pendanaan yang tidak sedikit,” ujarnya.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s