Penganekaragaman Pangan Tekan Konsumsi Beras

Posted: 21/04/2010 in Uncategorized
Tags: , ,

InformasiPagi, Sumsel

Sejak diluncurkannya program percepatan penganekaragaman (diversifikasi) pangan di Sumsel, Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumsel, dapat menekan konsumsi beras secara drastis. Pada 2009 konsumsi beras hanya 107 kg/kapita/tahun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 140 kg/kapita/tahun.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumsel, Samuel Chatib disela rakor bulog di Hotel Novotel Selasa (20/4). Menurutnya, beras merupakan makanan pokok masyarakat Sumsel, namun sejak adanya program diversifikasi pangan, beberapa komoditas lokal menjadi perhatian pihaknya untuk dapat dikembangkan, seperti umbi-umbian di daerah pegunungan Pagaralam, OKUS, dan lainnya. “Untuk diversifikasi pangan ini, kita telah melakukan pemanfaatan umbi-umbian dan komoditas lokal seperti jagung, labu, kacang dan lainnya,” katanya.
Samuel menjelaskan, sejak diluncurkannya program diversifikasi pangan di Sumsel, konsumsi beras di Sumsel menurun drastis, semula setiap tahunnya konsumsi beras Sumsel rata-rata 140 kg/kapita/tahun, namun pada 2009 lalu, konsumsi beras turun menjadi 107 kg/kapita/tahun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari negara tetangga, juga untuk konsumsi beras di Indonesia yang masih 139 kg/kapita/tahun.
“Dengan program diversivikasi ini kita berhasil menekan konsumsi beras mencapai 33 kg/kapita/tahun, tapi konsumsi beras Sumsel yang 107 kg/kapita/tahun itu, lebih besar dari Malaysia yang hanya 90 kg/kapita/tahun, juga Korea dan Thailand yang 70 kg/kapita/tahun. Karena mereka banyak mengkonsumsi komoditas lain selain beras,” kata dia.
Faktor penunjang keberhasilan program diversifikasi pangan ini katanya, adalah teknologi pengolahan komoditas, seperti menyajikan umbi-umbian agar menarik untuk dikonsumsi. Pihaknya juga tengah mengolah labu kuning untuk dijadikan mie. “Kita sekarang sedang mengajarkan beberapa kelompok untuk mengolah labu kuning itu menjadi mie, dan untuk kesuksesan program ini kita bekerjasama dengan TP PKK karena organisasinya sampai ke desa-desa,” ujarnya.
Jika berhasil menekan angka konsumsi beras sambung Samuel, maka beras tersebut dapat dimanfaatkan untuk diekspor, karena pada prinsipnya pangan Sumsel memang berlebih. “Kita sebenarnya tidak perlu berlebihan mengkonsumsi beras, bicara soal energi yang dibutuhkan untuk bekerja, kalori yang dibutuhkan kita untuk hidup hanya 2 ribu kalori per hari, kalau pekerja keras seperti bekerja di sawah butuh sekitar 3 ribu kalori. Tapi, kalori ini tidak hanya dari beras tapi bisa dari ubi, kacang, lemak, jagung dan lainnya,” paparnya.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s