Hingga 2010, Dinsos Bina 637 Korban Kekerasan

Posted: 19/04/2010 in Uncategorized
Tags: , ,

InformasiPagi, Sumsel

Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Sumsel membukukan, korban tindak kekerasan (KTK) dan pekerja migran (PM) yang telah dibina dan dibantu Dinsos sejak tahun 2005- April 2010 mencapai 637 orang. Bantuan Dinsos tersebut berupa pelatihan dan alat ketrampilan.
Demikian terungkap dalam acara bimbingan ketrampilan bagi korban KTK dan PM, di Aula Kantor Dinas Sosial Sumsel 2010 kemarin Kamis (15/4). Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel, Hj Ratnawati melalui Kabid Bantuan Jaminan dan Sosial Provinsi Sumsel, Drs H Ms Sumarwan MM memaparkan, rekapitulasi data KTK dan PM yang telah dibina dan dibantu Dinsos Sumsel tersebut, tersebar di lima daerah yaitu di Palembang 507 orang, Ogan Ilir 55 orang, Ogan Komering Ilir 30 orang, Lahat 10 orang, Ogan Komering Ulu 10 orang dan Lubuk Linggau 25 orang.
“Untuk korban tindak kekerasan saja berjumlah 366 orang, dan untuk pekerja migran 271 orang, jadi total KTK dan PM yang telah kita bina sejak 2005 dan April 2010 mencapai 637 orang. Selain dari Dinsos, data KTK kita dapatkan dari Women Crisis Center (WCC), untuk data PM kita dapatkan dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Sumsel,” katanya.
Usai acara, Marwan menambahkan, peserta pelatihan selama 10 hari yang dibina Dinsos kemarin berjumlah 60 orang, berasal dari Palembang dan sekitarnya. Peserta mayoritas dari KTK, yang diakibatkan faktor ekonomi. “Kami membekali mereka dengan ketrampilan agar bisa membuka usaha dan berpenghasilan, sehingga tidak lagi juga meminimalisir terjadinya konflik dalam rumah tanggah akibat faktor ekonomi,” terang dia.
Dijelaskannya, jenis kekerasan yang menimpa korban beragam, baik kekerasan fisik seperti pemukulan, akibat suami yang suka mabuk, berjudi atau memiliki wanita lain, dan juga kekerasan psikologis. “Di Sumsel, sering terjadi kekerasan dalam rumah tangga, tapi untuk kekerasan pekerja migran tidak sebanyak KTK, kekerasan pekerja migran banyak berasal dari Ogan Ilir, OKI dan lainnya, kekerasan didapatkan dari majikan tempat tempat bekerja,” ujarnya.
Berdasarkan analisis pihaknya kata Marwan, kekerasan pekerja migran setiap negara berbeda, di Negara Malaysia biasanya suka memukul pekerja, di Negara China biasanya memperbanyak jam kerja, di Arab banyak melakukan pemerkosaan.
Salah satu peserta pelatihan, Rini (35) warga Plaju sangat terbantu dengan adanya bantuan ketrampilan dan modal usaha dari Dinsos, selama ini ia sering menjadi bulan-bulanan suami akibat ekonomi yang sulit, setelah memiliki ketrampilan dan membuka usaha sendiri, KDRT yang dialaminya berkurang.
“Saya sudah hampir satu tahun dibina Dinsos, kemarin diberikan ketrampilan menganyam sangkek (kantung belanja-red) dan membuka usaha kecil, sekarang diberikan lagi pelatihan menjahit, kami banyak yang sudah dibantu Dinsos, baik modal dan bahan,” ungkapnya berseri-seri.
Masih di Aula Dinsos, Kasubid Bantuan Sosial Pekerja Migran Kementerian Sosial RI, Nurul Farijati SH MM menjelaskan, Kemensos RI memberikan bantuan kepada Dinsos Provinsi di Indonesia melalui dana dekonsentrasi, untuk memberdayakan korban tindak kekerasan dan pekerja migran. “Setiap Provinsi jumlah bantuan tidak sama, untuk Sumsel dibantu untuk 30 orang KTK dan 30 orang pekerja migran totalnya 60 orang. Tapi, bantuan bukan berupa uang, melainkan tool kit atau peralatan tata boga, salon dan alat jahit,” kata dia.
Karena keterbatasan anggaran, pihaknya kata Nurul tidak dapat membantu banyak korban kekerasan, sehingga korban kekerasan yang akan dilatih haruslah diseleksi terlebih dahulu oleh Dinsos Provinsi. “Korban kekerasan di Indonesia setiap tahun cenderung meningkat, dan kondisinya seperti gunung es, banyak yang melapor saat sudah beberapa kali mengalami tindak kekerasan. Selain itu, banyak yang tidak ingin mempermalukan suami dan keluarga sehingga tidak berani melapor,” ujarnya.
Salah satu instruktur pelatihan, Rena dari Rena Salon di Jalan Kolonel H Barlian, mengatakan, ia dipercayakan Dinsos melatih cara menggunting dan menata rambut bagi korban kekerasan selama 10 hari, dengan berbagai materi seperti menggunting model shaggy, trap, segi empat dan lainnya. “Karena waktu yang singkat, kita akan latih yang mudah dicerna saja, karena jika ingin menguasai benar, butuh waktu enam bulan,” ungkapnya.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s