MUI Sumsel Pantau Dosen Yang Mengaburkan Akidah

Posted: 25/03/2010 in Uncategorized
Tags: , , ,

InformasiPagi, Sumsel

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel, memantau para dosen perguruan tinggi tertentu, yang mengaburkan makna pluralisme agama. Karena dikhawatirkan merusak akidah umat Islam.
Sekretaris MUI Sumsel, H Ayik Farid di sekretariat MUI Sumsel, Rabu (24/3) mengatakan, keberadaan dosen-dosen tersebut di Sumsel masih samar-samar, namun di Palembang ada beberapa oknum dosen atau individu dosen yang berfikiran bahwa semua agama itu sama, semua agama itu benar, sehingga ada pengaburan akidah dalam hal pluralisme agama.
“Padahal itu salah, kalau memang dia Islam sudah jelas, bahwa sesungguhnya agama yang benar disisi Allah itu adalah Islam tidak ada yang lain, dan juga jelas lakum dinukum waliyadin, untukku agamaku untukmu agamamu,” terang Ayik.
Namun, ia tidak mau membuka secara jelas identitas para dosen tersebut, karena dikhawatirkan timbul polemik, hanya saja di Palembang ia menyebutkan jumlahnya di bawah lima orang. Ayik menjelaskan, MUI Sumsel belum melakukan dialog dengan para dosen tersebut, karena di Sumsel kondisi seperti ini belum begitu menonjol dan tajam, berbeda di Semarang dan Surabaya yang sudah sangat jelas dan terang-terangan.
“Di Palembang, kondisi tersebut belum begitu tajam, dan belum sampai ke masyarakat, melainkan hanya sebatas pemikiran di perguruan tinggi dan level wacana, belum dituangkan ke sebuah buku atau dalam sutau pendapat yang keluar,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika para dosen tersebut tetap mengaburkan masalah agama tersebut, dan menganggap semua agama sama dan benar, itu sudah melanggar nilai akidah Islamiyah. “Apa orang ini dikategorikan muslim atau tidak ? ini menjadi tanda tanya besar, padahal Islam harus punya prinsip dan akidah, bahkan tidak ada tawar menawar untuk itu, MUI akan memantau mereka dan kondisi yang ada,” katanya.

Disinggung mengenai sikap MUI dan antisipasi MUI masuknya buku doa yang menyesatkan berjudul ‘Rahasia Doa-Doa Yang Dikabulkan’ karangan Hanan El-Khouri diterbitkan oleh Tunas Isai Jakarta tahun 2004, yang sudah beredar di beberapa kota besar seperti Aceh pada tahun 2005, Medan pada 2009 dan Makassar pada Maret 2010. Ayik mengatakan, MUI akan melakukan rapat internal, untuk melakukan tindakan-tindakan antisipatif.
“Kalau kami menyarankan, sebaiknya dari pihak Kementrian Agama harus mengeluarkan persyaratan koreksi terhadap buku-buku Islam baru yang keluar, baik tim dari Kemenag atau bekerjasama dengan MUI, atau juga dipercayakan kepada MUI Sumsel,” pintanya.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s