Hotel Masih Bayar Upah di Bawah Standar

Posted: 19/01/2010 in Home / Beranda
Tags: , , , , ,

InformasiPagi, Sumsel

Para karyawan hotel kelas melati di Sumsel masih belum diperhatikan selayaknya oleh hotel tempat mereka bekerja, salah satunya membayar upah di bawah standar. Untuk hotel skala besar disinyalir menerapkan sistem outsourcing pada pekerjaan inti hotel.
Demikian diungkapkan Ketua Serikat Pekerja Pariwisata (SP Par) Sumsel, Hamidi disela Musda SP Par dan Serikat Pekerja Logam, Elektronik dan Mesin (SP LEM) Sumsel di Hotel Arjuna Sabtu (16/1). Dijelaskan Hamidi, SP Par Sumsel memiliki anggota berjumlah sekitar 5.000 orang se Sumsel, yang terdiri dari karyawan ruang lingkup pariwisata seperti dari hotel, restoran dan lainnya. Untuk karyawan hotel, disebutkannya masih banyak hotel kelas melati memberikan upah karyawannya di bawah upah minimum sektoral.
“Sekitar 90 persen Hotel Melati di Sumsel memberikan upah kepada karyawannya di bawah upah minimum sektoral, yaitu hanya memberikan upah sekitar 70 persen saja belum sepenuhnya. Untuk 2010 upah minimum sektoral itu Rp927.200, kalau hotel kelas melati tersebut membayar upah di bawah UMS, berarti belum melaksanakan keputusan Gubernur tentang upah sektoral,” katanya.
Sedangkan kata Hamidi, di perhotelan besar disinyalir masih banyak penyelewengan tentang outsourcing, dimana masih banyak pekerja melakukan pekerjaan yang seyogyanya itu adalah pekerjaan inti dan bagian dari perusahaan itu sendiri, namun pihak hotel membuatnya sistem outsourcing/kontrak. “Itu yang bertentangan dengan undang-undang, itulah yang ingin kita benahi ke depan,” jelas dia.
Untuk itulah, pada Februari mendatang, pihaknya akan mulai melakukan upaya memantau/monitoring pembayaran upah khususnya, apakah upah sudah sesuai dilaksanakan. Jika masih ada hotel belum melaksanakannya maka pihak SP Par Sumsel akan melakukan upaya gugatan kepada pihak perusahaan, jika tidak tercapai juga SP Par akan menindak lanjuti ke Disnaker.
“Kepada para pengusaha, kita harap kehiduapn pekerja menjadi prioritas utama, karena kesejahteraan pekerja itu sangat urgen, pekerja itu adalah tulang punggung pembangunan,” katanya.
Mengenai musda sendiri diharapkannya, agar melahirkan pengurus yang dapat memperjuangkan pekerja lebih baik, dan juga melahirkan program terbaik ke depan.
Ketua SP LEM Pusa, Soewarno, berharap Musda mendapatkan pemimpin yang berkomitmen terhadap SP LEM, khususnya giat melakukan kaderisasi penambahan anggota, punya waktu, memiliki loyalitas dan lainnya. “Kaderisasi ini terhambat karena pimpinan yang tidak penuh duduk di SP Par, masih banyak yang nyambi untuk mendukung kebutuhan rumah tangganya. Padahal, hakekatnya kepemimpinan dalam sarikat itu gak bisa disambi,” kata dia.
Sementara itu, Kadisnaker Trans Sumsel, Ir Rizal Fathoni, melalui Kabid Hubinsaker, A Syaironi mengatakan, jalinan komunikasi serikat pekerja dan pemerintah sudah baik dan merupakan mitra. Mengenai prediksi akan ada PHK massal pekerja pada pasar bebas ini, Syaironi menampiknya, menurut dia industri tekstil tidak terlalu banyak, sementara industri yang bakal terimbas pasar bebas salah satunya industri tekstil.agustian pratama/hu bp

——————————-
duh kasian yah karyawan hotel, tapi itu hanya puncak gunung es, bukan hanya pegawai hotel, saya yakin setiap perusahaan memiliki permasalahan yang sama … gimana kalau di perusahaan anda ?
——————————

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s