Sumsel Masih Kekurangan Dokter Keluarga

Posted: 15/01/2010 in Home / Beranda
Tags: , , ,

InformasiPagi, Sumsel

Sumsel masih kekurangan dokter keluarga, hanya ada 48 dokter keluarga saja se Sumsel yang bekerjasama dengan program PT Askes (Persero) Regional III Sumsel pada 2010 ini. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumsel akan menjalankan kembali program dokter keluarga ini, yang semua sempat dihentikan.
Demikian diungkapkan oleh General Manager PT Askes (Persero) Regional III Sumsel, Hj Erna Wijaya Kusuma ditemui di Kantor Gubernur Sumsel kemarin Rabu (13/1). Menurutnya, untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sumsel, pada 2010 PT Askes akan menjalankan beberapa program antara lain, penggantian kartu peserta Askes dan juga program dokter keluarga.
“PT Askes mengganti kartu yang lama dengan kartu baru, yang kualitasnya lebih baik, tidak mudah rusak dan praktis bisa dimasukkan ke dompet,” katanya.
Mengenai program dokter keluarga sendiri sambung Erna, dokter keluarga yang bekerjasama PT Askes jumlahnya di masing-masing wilayah/daerah berbeda-beda, seperti untuk di Palembang sendiri ada sekitar 22 dokter keluarga.
“Kalau jumlah dokter keluarga se Sumsel hanya ada 48 dokter keluarga, dan jika melihat peta wilayah, jumlah dokter keluarga ini otomatis masih kurang. Idealnya per satu dokter keluarga itu jumlah pesertanya 2.500 orang, sementara dokter keluarga yang tersebar tidak sebanding,” katanya.
Dipaparkannya, jika ideal satu dokter mendampingi 2.500 peserta Askes, jika dibagi dengan jumlah penduduk sekitar tujuh juta jiwa, berarti Sumsel masih kekurangan 2.800 dokter keluarga lagi. “Sehingga otomatis, kita juga tetap mengakses dulu ke puskesmas, peserta Askes memiliki dua pilihan, mau ke dokter keluaga atau puskesmas, terserah peserta Askes itu sendiri,” terang dia.
Sementara itu, Ketua Umum IDI Sumsel, Dr dr Alsen Arlan menjelaskan, untuk sementara program dokter keluarga di Sumsel dihentikan, program dokter keluarga pernah diuji coba dalam suatu periode, dokter keluarga yang dibina IDI Sumsel dulu sebanyak 32 orang, karena berdasarkan audit program tersebut dianggap tumpang tindih pendanaannya, misal di Dinas Kesehatan sudah ada pendanaan kesehatan rakyat miskin seperti Jamkesmas dan Jamsoskes. “Tapi, dari pihak Askes tetap ada dokter keluarga yang melayani askes PNS dan Askes yang sukarela, itu tetap jalan,” jelas Alsen.
IDI Sumsel kata Alsen, ke depan akan kembali menjalankan program dokter keluarga, dengan pola berbeda dan diatur lebih detail, akan ada restrukturisasi sumber dana agar tidak tumpang tindih. “Untuk realisasinya sedang dibicarakan, tapi memang idealnya, satu dokter itu meng-cover 2.500 penduduk,” tutupnya.
Sebelumnya, Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, pernah mengatakan, program dokter keluarga itu program yang baik, namun saat ini hanya bisa di kota-kota besar yang infrastrukturnya sudah jadi. Untuk daerah pedalaman akan sulit, dan tetap menggunakan puskesmas.agustian pratama/hu bp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s