KDRT Dominasi Kasus Kekerasan di 2009

Posted: 30/12/2009 in Home / Beranda
Tags: , , , , ,

InformasiPagi, Sumsel

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang didampingi oleh Women’s Crisis Center (WCC) Sumsel pada 2009, merupakan kasus yang mendominasi dari kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan lainnya, yaitu mencapai 194 kasus atau 51,87 persen.

Hal ini terungkap dalam laporan pertanggungjawaban publik WCC Palembang tahun 2009, yang disampaikan di Hotel Swarna Dwipa Rabu (31/12). Menurut Direktur Eksekutif  WCC Sumsel, Yeni Roslaini Izi, berdasarkan data, kekerasan terhadap perempuan di Sumsel yang didampingi WCC selama 2009 mencapai total 374 kasus  didominasi kasus KDRT.

Dijabarkannya, untuk kasus KDRT pada 2009 sebanyak  194 kasus atau 51,87 persen, menyusul KDP (kekerasan dalam pacaran) 52 kasus atau 13,90 persen, perkosaan 42 kasus atau 11,23 persen, kekerasan lainnya 36 kasus atau 9,63 persen, trafficking 30 kasus atau 8,02 persen, pelecehan seksual dan pencabulan 20 kasus atau 5,35 persen.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya kekerasan terhadap perempuan sampai sekarang masih terjadi,  untuk Sumsel kasus KDRT mendominasi kasus yang ditangani WCC pada 2009,” jelas dia.

Menurut Yeni, dari tahun ke tahun KDRT selalu menjadi peringkat pertama untuk jenis kekerasan yang dialami oleh perempuan di Sumsel khususnya di Palembang.

Untuk pendampingan kasus pada 2009  sendiri katanya mengalami penurunan, namun  bukan berarti jumlah kasusnya menurun, melainkan  karena sudah banyak lembaga-lembaga baik   lembaga berbasis masyarakat, atau lembaga  memiliki divisi layanan yang bermunculan.

“Sehingga pintu masuk pelaporan kasus  lebih banyak, bukan hanya ke WCC,  karena itulah  catatan yang masuk ke WCC pada 2009  lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Tapi kalau kasus ini dijumlahkan secara keseluruhan, akan jauh lebih banyak jumlah kasus kekerasan perempuan yang terjadi di  Sumsel,” ungkapnya.

Pihaknya kata Yeni pada 2009 telah melakukan banyak upaya  untuk mengantisipasi KDRT tersebut, antara lain  mendampingi korban-korban,  melakukan kampanye  penghentian kekerasan terhadap perempuan yang  melibatkan semua unsur masyarakat dan pemerintah.

“Kita  melatih ibu-ibu yang punya kepedulian untuk menjadi konselor, seperti ibu-ibu PKK Kota, PKK Kecamatan, agar mereka memilki keahlian  mendampingi perempuan korban kekerasan di sekitarnya, itulah salah satu bentuk upaya kita untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan di Sumsel,” terangnya.

Terakhir  Direktur Eksekutif WCC Sumsel menjelaskan, hingga kini sanksi hukum  terhadap pelaku kekerasan  masih  sangat memrihatinkan, karena  banyak kasus yang hukumannya dinilai tidak sesuai dengan penderitaan korban. Misalnya kasus pemerkosaan yang pelaku hanya dihukum bulanan atau  satu hingga dua tahun saja, padahal penderitaan  dialami  korban bisa sampai seumur hidup, atau hanya diputus ringan padahal korban  sudah babak belur bahkan sudah cacat.

“Sehingga  tidak akan menimbulkan efek jera kepada pelaku,  ini masih menjadi pekerjaan yang sangat besar bagi kami, untuk memperjuangkan hak-hak perempuan  untuk mendapatkan pemulihan, kebenaran dan keadilan di 2010 nanti,” tutupnya.

Terpisah, menanggapi mendominasinya kasus KDRT di Sumsel, Ketua Tim Penggerak PKK Sumsel, Hj Eliza Alex Noerdin di Griya Agung, mengatakan, kasus KDRT  merupakan cerminan manusia yang tidak menghargai perempuan. Ke depan ia berharap kasus KDRT di Sumsel menurun dan tidak ada lagi, dan kaum pria dapat memahami fungsi perempuan seutuhnya. “Kita harapkan KDRT bisa lambat laun dikurangi, dengan adanya pengertian dan kesadaran dari semua pihak,” harap Eliza.agustian pratama/HU Beritapagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s