Sendimentasi Sungai Musi Capai 6 Juta M3 Per Tahun

Posted: 03/12/2009 in Home / Beranda

InformasiPAgi, Sumsel

Pendangkalan Sungai Musi terjadi akibat tingginya sedimentasi volume endapan yang hingga kini sudah mencapai 6 juta kubik per tahun. Salah satunya akibat pembukaan lahan dan erosi.
Demikian diungkapkan oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel, Ahmad Najib di Hotel Bumi Asih Rabu (2/12). Berdasarkan pemantauan pihaknya, telah terjadi pendangkalan di Sungai Musi akibat pembukaan lahan dan adanya erosi yang terjadi setiap tahun.
“Kita ketahui pendangkalan Sungai Musi karena ada pembukaan lahan di daerah hulu yang tidak terkendali, dan juga karena adanya erosi yang setiap tahun cukup tinggi,” kata Najib.
Bahkan menurutnya, berdasarkan pemantauan terakhir BLH Sumsel, pendangkalan ini akibat sedimentasi yang sudah mencapai 6 juta meter kubik per tahun, dan meski sudah dilakukan pengerukan, namun disebutkan tidak akan berpengaruh.
“Pemerintah sudah melakukan pengerukan, tapi itu tidak akan mempengaruhi, dan solusi yang fundamental paling penting adalah memperbaiki daerah yang dapat mengakibatkan terjadinya pendangkalan,” jelas dia.
Untuk itu ia meminta, semua pihak dapat berperan serta menjaga lingkungan hidup khususnya kebersihan Sungai Musi, jangan jadikan Sungai Musi hanya untuk transportasi, sementara kesadaran dan perawatan dari berbagai pihak masih kurang.
“Sungai Musi juga harus dijaga dari pendangkalan,” pinta Najib usai menghadiri rapat evaluasi dana alokasi khusus (DAK) Bidang Lingkungan Hidup 2009 di Provinsi Sumsel kemarin.
Mengenai rapat DAK sendiri ia mengatakan, pada 2009 dana DAK yang dialokasikan Kementrian Lingkungan Hidup melalui PPLH Regional Sumatera sebesar Rp7,5 Miliar, yang dibagi untuk 12 kabupaten/kota menyusul Palembang, Muara Enim dan OKU.
“Dana Rp7,5 miliar ini dimanfaatkan oleh Kabupaten/Kota untuk memperkuat sektor lingkungan hidup, dana ini sangat bermanfaat dalam rangka melaksanakan kegiatan tugas pokok pelestarian sumber daya alam dan lainnya, hingga kini dana itu sudah terserap 90 persen,” ujarnya.
Dijelaskannya, pendanaan BLH Sumsel bukan hanya berasal dari APBD Provinsi saja, ada juga dari DAK dan dana lain, penggunaan dana ini perlu diawasi agar dapat tersalur dan termanfaatkan semaksimal mungkin oleh kabupaten/kota khususnya tugas pokok di sektor lingkungan hidup.
“Tapi, yang terpenting dalam aspek DAK ini adalah perencanaan, seperti penguatan laboratorium lingkungan, juga memperkuat SDM melalui diklat teknis yang diperuntukkan kabupaten/kota,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera, Sabar Ginting, menjelaskan, pada 2010 secara keseluruhan tidak ada penambahan DAK untuk regional Sumatera, karena pengaruh krisis global. “Tapi ada penambahan beberapa kabupaten baru untuk dialokasikan, dan pengurangan jumlah alokasi dana pada kabupaten yang pernah menerima,” katanya singkat.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s