Posted: 24/11/2009 in Home / Beranda

MUI Selidiki Aliran AKI
InformasiPagi, Sumsel

Aliran sesat menamakan dirinya amanat keagungan ilahi (AKI), yang pengikutnya telah menyebar di Palembang, sudah kategori meresahkan sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera memanggil pemimpin AKI.
Demikian dikatakan oleh Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun di ruang kerjanya Senin (23/11). Aliran AKI sudah diketahui MUI sejak lama bahkan sudah mencapai 15 tahun lebih perkembangannya. Disebutkan, sejak dulu isu indikasi paham ini sesat telah beredar, namun memang belum diteliti sejauh mana kesesatannya, karena masyarakat tidak menjelaskan secara konkrit informasinya.
“Kalau sudah menimbulkan keresahan dan kekhawatiran masyarakat baru kami teliti, dan karena sekarang sudah diutarakan media memiliki faham tidak mewajibkan shalat, ini bukan indikasi lagi dan jelas-jelas sudah sesat dan menyesatkan, karena sudah ada imamnya, jamaahnya dan ada titik daerah pembinaannya,” kata dia.
MUI Sumsel, kemarin meneliti kelapangan sejauh mana faham ini, apa benar tidak mewajibkan shalat dan puasa, serta semua agama bisa bercampur dan lainnya. Karena, di Indonesia tidak ada berbagai agama itu bercampur.
“Kita ingin di Sumsel jangan sampai ada aliran/faham yang meresahkan dan menyesatkan itu. Komisi Pengkajian MUI Sumsel saya minta langsung terjun ke sana, karena faham ini masuk criteria alisan sesat yang salah satunya tidak mempercayai Rukun Iman dan Rukun Islam,” jelas dia.
Lebih lanjut kata KH Sodikun, jika benar sesat, AKI akan dipanggil untuk dibina, jika tidak mau dibina maka akan diserahkan ke pihak terkait dan aparat hukum, karena sudah dinilai sesat dan menyesatkan.
Dijelaskannya, 10 kriteria aliran sesat versi MUI yaitu, pertama tidak mengingkari salah satu Rukun Iman dan Rukun Islam, kedua meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Alquran dan Assunah), ketiga meyakini turunnya wahyu sesudah Alquran. Lalu, keempat mengingkari autensitas dan kebenaran Alquran, kelima menafsirkan Alquran yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir bukan kelompoknya, keenam, mengingkari kedudukan hadits nabi sebagai sumber ajaran Islam.
“Ketujuh, menghina, melecehkan dan atau merendahkan nabi dan rasul, kedepalan mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, kesembilan mengubah, menambah dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardu tidak lima waktu dan sebagainya. Kesepuluh, mengafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya,” tutup Sodikun.
Sementara itu, Kakanwil Depag Sumsel, Drs H Najib Haitami belum dapat berkomentar banyak, karena ia baru menerima informasi tersebut. “Saya belum mendapatkan informasinya, dan akan dipelajari dulu, kalau memang ada kita akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, jadi belum bisa menjelaskan,” katanya singkat.
Malam kemarin, Ketua MUI Sumsel, KH Sodikun menjelaskan, hasil penelitian pihak MUI, Imam AKI, Djidin berdiplomatis saat ditanyai. “Saat ditanya mengenai puasa dan shalat, dia menjawab itu sesuai pribadi masing-masing,” katanya.
Menurut Sodikun, MUI Sumsel dalam waktu dekat akan segera memanggil pemimpin AKI untuk dimintai keterangan lebih lanjut, dan MUI Sumsel akan mengkaji kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan oleh mereka.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s