Posted: 11/11/2009 in Home / Beranda

Generasi Muda Rentan Bahaya Pornografi dan Pornoaksi
InformasiPagi, Sumsel

Generasi muda di Sumsel sangat rentan terhadap bahaya pornografi dan pornoaksi, karena di tengah kecanggihan teknologi era globalisasi pornografi dan pornoaksi sangat mudah diakses. Disebutkan dari 10 siswa SMA sekitar 65 persennya sangat rentan terjerumus dan rentan mengakses pornoaksi dan pornografi.
Demikian terungkap dalam acara sosialisasi bahaya pornografi dan pornoaksi di Hotel Sahid Imara Selasa (10/11). Salah satu narasumber, Husyam, yang juga merupakan Ketua Harian DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumsel mengatakan, generasi muda khususnya para pelajar sangat rentan terhadap pornoaksi dan pornografi, narkoba dan tindakan negatif lainnya. “Masa remaja itu adalah masa labil yang mudah terpengaruh,” katanya.
Menurut Husyam, KNPI Sumsel tidak memiliki data pasti berapa jumlah generasi muda yang terjerumus dalam pornoaksi dan pornografi. Hanya saja, berdasarkan pemantauannya dari 10 orang pelajar SMA sekitar 65 persennya sangat rentan terjerumus atau mengakses pornografi dan pornoaksi.
“KNPI berperan mencegah salah satunya dengan sosialisasi bahaya pornoaksi dan pornografi, bukan aksen dilapangan dengan merazia, karena itu bukan wewenang kita,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sumsel, H Aidit Aziz mengatakan, kemajuan teknologi di era globalisasi berperan besar mempengaruhi generasi muda terhadap pornoaksi dan pornografi. Dicontohkannya untuk mengakses pornoaksi dan pornografi, para remaja dapat melakukannya melalui ponsel atau modem internet yang dapat dimiliki mereka dengan murah.
Menurutnya, memberantas pornoaksi dan pornografi bukanlah hal yang mudah, dan membutuhkan peran aktif seluruh pihak. Selain pornografi dan pornoaksi, para remaja juga rentan akan narkoba, seks bebas dan tindakan negatif lainnya.
Tinggal lagi kata Aidit, peran orang tua di rumah dalam menanamkan nilai keagamaan kepada anaknya sangat diperlukan. Begitu juga peran para guru di sekolah-sekolah, dalam melakukan pengawasan untuk mencegah para siswanya mengakses atau melakukan kegiatan pornoaksi dan pornografi.
“Tapi, pendidikan agama dan pendidikan moral di dalam rumah tangga itu yang terpenting, jika para orang tua sudah menanamkan kedua hal tersebut, saat di lingkungan luar nanti, potensi anak untuk melakukan hal negatif akan terminimalisir,” jelas Plt Kadispora Sumsel ini.
Sedangkan, Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Sumsel, Meri Arianti mengutarakan, produk hukum tentang pornografi dan pornoaksi baru sebatas rancangan undang-undang, belum dibakukan. Sehingga untuk sementara ini pihaknya hanya dapat mencegah dengan melakukan sosialisasi dan penerangan kepada para remaja tentang bahaya pornoaksi dan pornografi. “Ketetapan hukumnya masih tarik ulur,” tutupnya.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s