Posted: 05/11/2009 in Home / Beranda

APT Demo Demo Rute dan Pungli
Palembang, BP

Sekitar 120 sopir Bus mahasiswa Palembang-Inderalaya, beserta kernet dan mahasiswa UNSRI, yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Transportasi (APT), terdiri dari BEM Unsri dan Serikat Buruh Transportasi Angkutan (SBTA), menyampaikan tiga tuntutan di ke Kantor Gubernur Sumsel Kamis (5/11).
Pantauan BeritaPagi di lapangan, kedatangan pendemo sekitar pukul 12.00, diterima oleh jajaran Kadishub Sumsel, Polsek IT I, Satuan Pol PP Sumsel dan jajaran Poltabes Palembang. Ratusan pendemo beserta bus tidak diperkenankan masuk ke halaman kantor gubernur, sehingga hanya berorasi diluar pagar sebelah kanan kantor gubernur, dan memarkirkan kendaraan disepanjang Jalan Kapten Arivai, dan di dua lorong sebelah Kantor Gubernur. Tak pelak, parkir 120 bus membuat macet Jalan Kapten Arivai dan Jalan Kasnariansyah belakang kantor gubernur.
Dalam orasinya, koordinator pendemo Akbar menyampaikan, tiga tuntutan yang mereka bawa untuk diselesaikan oleh Pemprov Sumsel. Tuntutan pertama, yaitu memperjelas rute angkutan khusus dan tidak memberatkan mahasiswa dan sopir ke Inderalaya Unsri, yaitu untuk rute pergi, mulai dar Cinde-Kertapati-Inderalaya-Kampus Unsri. Sementara untuk rute pulang, Kampus Unsri-Musi II-Bukit Besar-Simpang Polda-Jalan Jenderal Sudirman (IP).
Tuntutan kedua kata Akbar, agar Pemprov Sumsel menindak tegas para oknum yang melakukan pungli terhadap bis angkutan khusus di sekitar rute-rute tersebut di atas. Tuntutan ketiga agar Pemprov Sumsel merevisi SK Gubernur no 561 dan segera mengeluarkan regulasi baku terkait angkutan khusus dalam bentuk perda.
“Bus angkutan khusus dirasa masih sangat solutif membantu armada bis Unsri (kuning), yang jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah mahasiswa, sehingga dengan adanya bis angkutan khusus setidaknya meminimalisir keterlambatan pulang pergi kuliah,” kata Akbar.
Pendemo berharap, rute yang dituntutkan oleh mahasiswa dan sopir, agar menjadi solusi demi kelancaran bersama dalam menggunakan jasa bis angkutan khusus. “Mahasiswa yang berdomilisi di seberang pasar, perumnas, km 12, pusri dan lainnya, lebih efisien dan murah dan mengeluarkan cost, sopir pun tidak diberatkan dengan rute yang lancar dan kondusif,” tegasnya.
Usai bergantian orasi, sekitar 10 orang pendemo antara lain, Akbar, Febriansyah, Eli Sumantri dan lainnya, diminta menghadap Kadishub Sumsel, Ir Sarimuda MT didampingi Kabid LLAJ dan Kereta Api Dishub Sumsel, Nofri Dalimunthe, jajaran Dishub, Kasat Pol PP Sumsel, Ubaidillah, jajaran Pol PP serta pihak kepolisian di ruang rapat Asisten I Pemprov Sumsel.
Dalam pertemuan, Menteri Aksi dan Propaganda BEM Unsri, Eli Sumantri menyampaikan, tentang tidak sesuainya perjanjian Dishub dengan para sopir terkait pembatasan waktu bagi bus mahasiswa Palembang-Inderalaya.
Dijelaskannya, pada ketentuan bus mahasiswa dapat melewati Ampera dan masuk kota/pasar di bawah pukul 12.00, namun nyatanya tidak diterapkan dilapangan, para sopir tidak diperbolehkan menyeberang dan dicegat di Rumah Makan Pamor. Kemudian mahasiswa dipindahkan ke bus kota lain untuk diantar ke kota/pasar, dengan ini para sopir dirugikan karena harus mengeluarkan uang memindahkan ke bus lain.
Untuk itulah kata Eli, mereka menuntut kejelasan trayek bus mahasiswa jurusan Palembang-Inderalaya, karena pihaknya telah 38 kali melakukan pertemuan dengan Dishub namun belum menemukan solusi yang memuaskan.
“Kami harap, untuk dapat kembali melintas di Jembatan Ampera dan meminta Pemprov Sumsel menindak tegas para oknum pungli kepada bus di sepanjang rute Palembang-Inderalaya. Kami juga meminta SK Gubernur Nomor 561 untuk direvisi dan adanya regulasi baku tentang angkutan dalam bentuk perda,” tuturnya.
Sementara itu, perwakilan dari SBTA Unsri, Subur Aspari menyampaikan, ia meminta bus mahasiswa dapat mangkal di kawasan Pasar Cinde, didepan IP dan dapat melintasi Jembatan Ampera dan tidak ditilang. “Tahun 2006 kemaren Dishub dengan sopir sudah rapat dan sepakat, di bawah pukul 12.00 kami boleh lewat Ampera, sekarang tidak diterapkan lagi,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Kadishub Sumsel, Ir Sarimuda MT, mengatakan, mengenai rute pihaknya akan melakukan rapat lanjutan antara Dishub, perwakilan para sopir yang berdemo dan perwakilan mahasiswa, untuk ditemukan solusinya. Namun menurutnya, jika sudah disepakati pihaknya akan mengkoordinasikan kepada aparat Dishub di lapangan, dan dalam rapat lanjutan akan dilakukan penentuan tempat mangkal bus mahasiswa yang tidak mengganggu lalulintas.
Mengenai pungli, Sarimuda menegaskan, jika ditemukan pungli yang dilakukan oknum Dishub dilapangan, masyarakat, mahasiswa dan sopir jangan segan-segan melaporkan ke kantor Dishub Sumsel, atau kepadanya langsung. Karena berdasarkan aturan UU No 2 tahun 2009, aparat Dishub tidak diperbolehkan lagi mengatur lalulintas dan memungut dipinggir jalan, kecuali di terminal-terminal yang menjadi wewenang penuh Dishub. “Kalau yang pungli preman, akan kita koordinasikan dengan pihak kepolisian,” tutupnya. agustian pratama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s