Posted: 29/10/2009 in Home / Beranda

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Dirumuskan
InformasiPagi, Sumsel

Badan Ketahanan Pangan se Sumsel, melakukan rapat koordinasi dewan ketahanan pangan Provinsi Sumsel 2009 di Hotel Carrissima Kamis (29/10). Hasilnya dirumuskan 11 langkah percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal.
Acara rakor dihadiri oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sumsel, dr Aidit Aziz, Kaban Ketahanan Pangan Sumsel, Ir Hj Nelly Rasdiana MSi, Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Deptan, Mulyono dan Badan Ketahanan Pangan se Sumsel.
Dalam sambutannya, Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumsel, Ir Hj Nelly Rasdiana MSI mengatakan, situasi pangan di Sumsel cukup terkendali baik regional dan nasional, dan berdasarkan hasil analisis dari aspek kebutuhan Sumsel mengalami surplus pangan, seperti beras, jagung, ubi kayu ubi jalar, kacang hijau, kacang tanah dan lainnya.
“Ada komoditi pangan yang Sumsel kekurangan seperti susu, gula dan kedelai, kekurangan ini menjadi tugas kita untuk melakukan upaya memacu tingkat produksi komoditi tersebut,” katanya.
Rakor kemarin, diharapkannya dapat menyatukan persepsi dalam menyikapi dan menindak lanjuti percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya local.
Usai rakor, Nelly menjelaskan, disepakati 11 rumusan rakor tentang percepatan penganekaragaman konsumsi pangan, antara lain, menyosialisasikan kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan ke lintas sector dan legislatif, lalu menyusun pergub dan juklak untuk ditindaklanjuti ke perbup/perwali.
“Juga meningkatkan pemahaman, kesadaran masyarakat tentang penganekaragaman konsumsi pangan, pengintegrasian kegiatan penganekaragaman ini dengan program Desa Mandiri Pangan juga PNPM Mandiri dan program lainnya,” terangnya.
Langkah lainnya kata Nelly, menggalang dana dari APBD, swasta, BUMN, BUMD dan juga masyarakat untuk mengembangkan teknologi pengaloahan bahan baku berbasis sumberdaya lokal. Lalu memperkuat dukungan produksi pangan berbasis sumberdaya lokal, melalui pemanfaatan lahan potensial yang belum dimanfaatkan secara optimal terutama untuk umbi-umbian dan beberapa langkah lainnya.
Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Deptan, Mulyono menuturkan, Indonesia adalah bangsa pengkonsumsi beras terbesar di dunia yaitu 139 kg/kapita/tahun, sehingga konsumsi beras sedikit demi sedikit harus dialihkan pada potensi lokal seperti umbi-umbian yang mengandung protein tinggi. “Karena seiring pertumbuhan penduduk, ketergantungan terhadap satu komoditas yaitu beras akan semakin meningkat,” terangnya.
Pada sambutannya, Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemprov Sumsel, Aidit Aziz menyampaikan, pangan itu adalah kebutuhan masyarakat, pangan yang esensial terdiri dari karbohidrat, protein, lemak dan mineral. “Produksi pangan kita sudah diekspor ke provinsi lain, untuk kebutuhan Sumsel sendiri sudah terpenuhi, tapi konsumsi protein kita masih kurang,” katanya.agustian pratama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s