Posted: 26/10/2009 in Home / Beranda

TAA Tetap Akan Dilanjutkan

InformasiPagi, Sumsel

Pembangunan mega proyek Pelabuhan Tanjung Api-api (TAA) sempat dinilai gagal oleh beberapa pihak, karena berbagai pendapat, namun Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin tetap menegaskan, proyek TAA tidak gagal hanya membutuhkan waktu.
Demikian diungkapkan oleh Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, kepada para wartawan pada saat memberikan konfirmasi pemberitaan tentang TAA di ruang kerjanya, Senin (26/10). Rapat sendiri juga dihadiri oleh Ketua DPRD Sumsel, Toni Wasista Bambang Utoyo, Asisten Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel, Edi Hermanto, Kepala Bappeda Sumsel, Yohanes L Toruan, Karo Hukum dan HAM Ardani SH, Asisten II, Eddy Hermanto, Anita Noeringhati, dan petinggi-petinggi media massa.
Semula Alex mengutarakan alasan, kenapa TAA harus tetap dijalankan, yaitu selain telah dinanti oleh masyarakat Sumsel sejak bertahun-tahun lalu, dibangunnya TAA untuk mengeluarkan semua sumber daya alam Sumsel yang berlimpah, yang belum berhasil di angkut secara maksimal.
“TAA harus jadi, karena ini lah cara kita mengeluarkan SDA Sumsel, seperti batubara yang 48 persen untuk cadangan nasional, hanya bisa dikeluarkan 10 juta ton/tahun melalui Tarahan Lampung melalui jalur kereta api, ini tidak bisa dinaikkan karena infrastuktur tidak mendukung,” katanya.
Dijelaskan Gubernur, kesempatan memanfaatkan SDA batubara ini hanya sekitar 23 tahun ke depan, karena jika sudah muncul energi alternatif yang lebih murah, efisien, tidak polusi, tidak terbatas, dan terjangkau harganya, pada saat itulah batubara tidak akan laku lagi.
“Karena batubara ini tidak terbarukan, dan sangat polutif, dan itu akan terjadi paling lama 20-30 tahun lagi, jika hanya dikeluarkan 10 juta ton/tahun, dalam 30 tahun baru 300 juta ton, masih ada 17.700 miliar ton, dari harga kurang lebih 80 ribu dollar, itu lebih dari 1,5 T Dollar Amerika,” ungkapnya.
Sedangkan sambung Alex, untuk memajukan Sumsel dengan segala pembangunan, dan menyelesaikan semua infrastruktur hingga tingkat kecamatan, juga listrik hingga tingkat pedesaan, juga untuk dana sekolah gratis hingga beasiswa hingga S3, hanya memerlukan Rp23 miliar dolar saja.
Lebih lanjut kata Alex, TAA harus tetap dilanjutkan, karena Pemprov Sumsel telah berjuang habis mendapatkan delegasi kewenangan dan izin prinsip untuk membangun TAA tanpa harus melakukan rapat-rapat di pusat. Selain itu sudah banyak dana yang dihabiskan, seperti untuk pembangunan jalan TAA sepanjang 78 km yang mengeluarkan dana Rp470 miliar dan juga belum selesai. “Oleh karena itu kita tidak bisa mundur lagi, sudah banyak dana yang kita keluarkan, harus sesegera mungkin melaksanakan proyek ini, kita tidak mau ini terulang lagi,” terangnya.
Untuk itu, ia berniat untuk melakukan percepatan pembangunan TAA, dengan meminta bantuan dua konsultan keuangan untuk menyeleksi dari sisi bonafiditasnya, kelayakannya, dan konsultan hukum dari segi legalitasnya, jangan sampai dibohongi lagi seperti yang dulu-dulu. Dua konsultan ini tidakla ditunjuk melainkan ditenderkan sesuai dengan aturan secara transparan. “Ada yang mengatakan mengapa konsultan lokal dan universitas lokal tidak dilibatkan, karena mereka tidak ikut mendaftar pada saat tender,” jelas Alex.
Kedua konsultan ini kata Alex, bukan mengundurkan diri seperti yang diberitakan media massa beberapa waktu lalu, melainkan sudah selesai waktunya. Karena, kedua konsulta telah diberikan waktu selama 70 hari untuk menyeleksi para investor, namun sampai batas waktunya tidak ada keputusan dan otomatis dengan sendirinya akan selesai.
“Proses ini tidak dapat cepat begitu saja, karena harus ada pra feasibility study (FS) dulu kemudian FS, ini dapat dipecahkan hanya saja membutuhkan waktu berbulan-bulan,” katanya.
Diungkapkan oleh Gubernur, semua peraturan yang sesuai Keppres sudah diikuti namun masih terganjal, namun aturan ini tidak dapat diintervensi oleh Provinsi.
Ditanya mengenai target, Gubernur akan menjalankan dua opsi, yaitu pertama dibuatnya pra FS, yang waktunya paling lama 6 bulan, atau bisa paling cepat 3 bulan, harus ada re-schedulling, atau opsi kedua tidak menggunakan jalur yang milik kereta api, namun membuat jalur baru khusus KA batubara sehingga ada pembebasan lahan.
“Kalau membuat jalur khusus, wewenang ada di Gubernur, tidak perlu tender dan lelang, karena ini investasi akan membebaskan lahan dan membuat jalan,” katanya.
Karena kata Alex, berdasarkan UU No 23 tahun 2007 tentang perkeretaapian pasal 51 ayat 2, jalur KA khusus yang panjangnya melebihi satu wilayah kabupaten/kota dalam provinsi ditetapkan oleh Pemprov.
“Jadi kalau ada yang berani membebaskan jalur KA, baik dari Lahat, Tebing Tinggi, Muara Enim, hingga ke TAA, akan kita tempuh jalan itu, tidak perlu tender, karena mereka yang membebaskan, kita hanya memfasilitasi saja. Saya ingin membangun Sumsel dengan dana pihak ketiga, jadi ini bukan gagal, tapi terlambat, dan kita akan laksanakan dua opsi tersebut,” tegas Alex
Sementara itu, Kepala Bappeda Sumsel, Yohannes menjelaskan, ada aturan yang mengganjal dan harus mengacu pada Kepres, sementara karena ini melibatkan investor asing, pihak investor dalam menanamkan dananya ingin menggunakan aturan internasional.
Menurutnya, usaha Gubernur mendapatkan delegasi kewenangan di daerah sudah pas untuk memecahkan persoalan inilah, sehingga dapat mempercepat dan menyederhanakan birokrasinya.
“Namun kembali lagi, Keppres yang mengganjal, karena pihak investor mempertanyakan, mengapat uang mereka dilelang, inilah duduk permasalahannya. Ini bukan masalah uang APBD tapi uang investasi, uang dari luar negeri tapi harus berhadapan dengan sekian banyak aturan yang tidak mendukung investasi masuk,” katanya.agustian pratama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s